![]() |
![]() |
| Profil | Program Kerja | Sekretariat Cabang | Organisasi | Daftar Anggota | Mitra |
| Depan | Berita | Artikel | Agenda | Galeri Foto | Konsultasi | Forum Sharing | Download | Beasiswa | BANK SOAL | Kalender Kegiatan | Database Anggota KGI |
|
Konsultasi Umum
31 Jan 2009 | Komentar: 50
Menghadapi Siswa Selalu Bikin Masalah di Kelas
Pertanyaan: Bagaimana cara menghadapi anak didik yang setiap hari membuat masalah di kelas tanpa memberi hukuman yang fatal (yang dilarang)? Sudah diberi hukuman yang mendidik tetap saja tidak berubah? Bagaimana cara penilaian terhadap anak didik yang mempunyai kemampuan di dalam bidang studi kurang, tetapi semangat belajar dan di bidang sosialnya tinggi sekali? Apakah perlu tidak naik kelas? Apakah perlu anak didik diberi pembelajaran di luar sekolah atau kelas, mengingat waktu pelajaran di kelas sangat terbatas dan bagaimana cara membagi waktu yang baik dalam pembelajaran tersebut? Iin Komariah, Surabaya Jawaban Drs Martadi MSn Ibu, anak suka membuat masalah di kelas bisa disebabkan berbagai faktor. Bisa karena punya masalah belajar, ingin mendapat perhatian, atau aspek lain. Bahkan, ada anak yang apabila dilarang justru melakukan larangan tersebut. Untuk mengatasinya, langkah yang bisa Ibu lakukan adalah deteksi awal apa sebenarnya yang membuat anak suka membikin ulah. Dekati dan ajak bicara dia baik-baik, akan lebih baik orang tua diajak bicara. Beberapa temuan menunjukkan bahwa problem yang dihadapi anak sering disebabkan masalah yang dibawa dari keluarga di rumah. Libatkan guru BP di sekolah untuk ikut mendeteksi masalah anak tersebut dan memberi masukan langkah apa yang bisa diambil untuk mengatasinya sehingga anak tidak lagi membuat masalah di kelas. Pengasuh yakin, dihukum dalam bentuk apa pun, anak tidak akan jera atau justru akan semakin nakal bila kita tidak mengetahui permasalahan yang dihadapinya. Memberi hukuman bersifat mendidik yang Ibu terapkan sudah betul dan dalam kasus tertentu hukuman memang efektif untuk memberikan efek jera kepada anak. Namun, seringkali hukuman tidak selalu efektif untuk kasus lain. Setiap anak dikaruniai potensi kecerdasan yang berbeda. Ada anak yang sangat hebat di bidang matematika tetapi lemah dalam kemampuan sosial atau sebaliknya. Sebagai guru, kita sering menjumpai anak yang kemampuan akademiknya (bidang studi) kurang, namun memiliki perilaku (akhlak) yang baik seperti kasus siswa Ibu. Apakah bisa dinaikkan kelas? Kenaikan kelas bagi anak merupakan sebuah prasyarat agar anak siap mengikuti pelajaran pada jenjang kelas yang lebih tinggi. Untuk itu, dalam mengambil keputusan apakah anak naik atau tidak, guru harus mempertimbangkan berbagai aspek secara komprehensif, baik capaian akademik, kesiapan belajar, perkembangan sosial, perkembangan akhlak, maupun pertimbangan lain. Berbagai komponen tersebut harus dibuat kriteria yang jelas sehingga mudah untuk mengevaluasinya. Bila anak masih memenuhi batas minimal dari berbagai kriteria tersebut, tidak ada salahnya dinaikkan. Namun sebaliknya, bila anak dinaikkan justru mengalami kesulitan baru, dia bisa saja harus tetap tinggal kelas. Prinsipnya, anak perlu dinaikkan atau tidak harus didasarkan pertimbangan mana yang terbaik untuk siswa. Bila perlu, ajak orang tua untuk ikut memikirkan mana yang terbaik bagi anak ke depan. Pengasuh sangat mendukung bila anak diajak belajar di luar kelas. Sebab, dengan belajar di luar kelas, materi pelajaran lebih kontekstual, mudah dipahami, dan belajar menjadi lebih bermakna karena langsung dikaitkan dengan problem yang dihadapi dalam kehidupan. Untuk jadwal, bisa saja dilakukan seminggu sekali, satu bulan sekali, atau satu semester sekali bergantung tema dan kemampuan sekolah. Ada baiknya, pelajaran di luar kelas disusun secara terintegrasi yang melibatkan beberapa bidang studi sehingga lebih komprehensif dan efisien. (*/hud) Sumber: Jawa Pos, 29 Januari 2009 Komentar amalia nn | 18 Aug 2010 11:55 am
Komentar fuadi ramli | 14 Jul 2010 03:19 pm
Komentar fuadi ramli | 14 Jul 2010 03:12 pm
Komentar Andhiguy Smith | 27 Jun 2010 11:58 am
Komentar Nurhadi Abdullah | 22 Jun 2010 08:06 am
Komentar rian | 22 Jun 2010 05:00 am
saya sepakat pak... apa lagi dengan pelibatan orang tua terhadap siswa.... cz jarang sekali ada guru yang mau mengenal dan mendidik siswa lebih dalam sehingga mau berdiskusi kepada orang tua untuk kebaikan siswa.... sering kali guru tau akan solusi yang ada tetapi malas ketika melakukan... dan dari catatan yang saya punya sangat sedikit guru untuk mau melakukannya... maunya ngajar, nyatat, dikte, tanpa mau tahu masalah siswa sebenarnya.... Komentar rian | 22 Jun 2010 04:55 am
Komentar tata | 14 Jun 2010 09:02 pm
Komentar lely hidayati | 20 May 2010 09:16 pm
Komentar dien | 20 Feb 2010 09:08 am
Komentar neynie | 04 Jan 2010 01:52 am
Komentar maya sugihartono | 01 Dec 2009 09:15 pm
Komentar MIMI | 26 Nov 2009 09:30 am
Komentar diana | 28 Oct 2009 07:38 pm
Komentar santi | 16 Oct 2009 09:35 pm
|
![]() ![]() ![]() ![]() |