![]() |
![]() |
| Profil | Program Kerja | Sekretariat Cabang | Organisasi | Daftar Anggota | Mitra |
| Depan | Berita | Artikel | Agenda | Galeri Foto | Konsultasi | Forum Sharing | Download | Beasiswa | BANK SOAL | Kalender Kegiatan | Database Anggota KGI |
|
Sharing Yuk
24 Oct 2009 | Komentar: 12
Guru Dan Lupa (1)
Oleh: Nina Soeparno Pengajar Bahasa Inggris Dari sejak dulu saya memang terkenal pelupa. Baik di kalangan teman, guru2 saya, dosen, sampai keluarga. Penyakit lupa ini menyebabkan anak saya sempat "diculik" tukang ojek tak dikenal akibat saya lupa menelpon tukan gojek yang biasa menjemputnya sepulang dari belajar di rumah temannya. Allah masih sayang dengan saya ketika itu, sehingga anak saya yang baru kelas 5 SD itu pintar dengan meninggalkan jejak di tempat2 yang dia singgahi, sehingga sebelum subuh hari berikutnya pun kami sudah menemukannya kembali. Selamat tanpa kurang suatu apa. Penyakit lupa saya bukan berhenti sampai disitu. Saya sebetulnya sebal kalau segala sesuatu berantakan, sehingga selalu saya rapihkan, tetapi parahnya, saya selalu lupa dimana saya meletakkan barang yang telah saya rapihkan tersebut. Begitu pula dengan lesson plan, unit plan, worksheet anak2 yang telah saya buat, sering kali saya tidak tahu lagi dimana tempatnya. Padahal, umumnya folder2 telah saya beri nama, tetapi tetap saja tidak karuan. Alhasil, selalu saja saya mesti membuat yang baru, atau terpaksa kalau kepepet ya harus saya corat-coret dengan tulisan tangan saya yang indah itu. Kejadian itu pernah terjadi ketika saya didaulat menjadi MC pada acara peresmian KGI DKI Jakarta. Sehari sebelumnya saya sudah mencatat di laptop apa2 saja yang harus dikatakan dengan detil, namun, entah kenapa saya lupa mengeprintnya, sehingga, pagi hari tepat sebelum acara dimulai saya mencoret-coret di kertas seadanya. Bukan main hebohnya waktu itu, selain printer tidak ada, yang paling parah, saya terbata-bata mengucapkan nama2 pejabat yang hadir. Fatal kan, apalagi di Indonesia yang mengharuskan menyebutkan nama pejabat lengkap dengan sederet titelnya itu. Wuaaaahhhh...alhasil saya diprotes habis oleh teman2 sesudahnya. Itu benar2 pengalaman yang tidak terlupakan dalam sepak terjang saya sebagai MC. Penyakit lupa juga membuat murid2 saya bersyukur karena saya lupa membawa soal UTS, beberapa hari yang lalu, sehingga UTS terpaksa harus saya tunda minggu depan. "Sering2 lupa yah, miss..." Ada satu hal yang hingga kini penyakit lupa itu membuat saya tidak ikhlas menerimanya. Ceritanya begini, beberapa bulan lalu saya mengajukan propodal kepada Kepala Sekolah saya agar saya bisa pergi ke suatu konferensi guru di Eropa dengan biaya sekolah. Setelah membacanya, tanpa pikir panjang dan ribut2, ibu kepsek yang baik hati itu langsung mengiyakan, bahkan menelpon komite sekolah, dan beberapa pejabat terkait. Singkat kata, hanya dalam waktu satu jam uang yang saya butuhkan akan cair. Ketika sedang menunggu, iseng saya membuka website konferensi itu. Bagai disambar petir di siang bolong, saya terhenyak. Pendaftaran untuk menjadi peserta konferensi telah ditutup. Kalau bapak ibu pernah menonton film Mr Bean episode ujian yang gagal, seperti itulah tingkah saya waktu itu. Tergopoh2 saya menelpon ke Singapura, pusat Organisasi Guru itu berada, menanyakan apakah saya masih bisa mendaftar. Apa boleh buat, kelihatannya nasib baik itu bukan milik saya. Saya gagal. Ngenesnya luar biasa. Selain bejibun cerita tentang penyakit lupa yang bisa menyebabkan kerugian di sekitar saya, sebetulnya ada cerita tentang sifat pelupa yang saya syukuri. Dua kali saya selalu lupa meminum pil KB saya tepat pada waktunya. Alhasil, anak kedua dan ketiga pun lahir... Amit-amit yah, Bapak Ibu... Salam Pelupa Komentar edumediashop | 16 Mar 2010 03:29 pm
Maap sekedar info..
Bapak - Ibu guru yang membutuhkan media belajar berupa mikroskop berkamera yang bisa langsung merekam gambar atau juga buku-buku berkualitas, kunjungi http://www.edumediashop.com Komentar rusydi hikmawan | 16 Mar 2010 09:07 am
lupa mah wajar, tapi kalo guru sampai korup kayak tulisan saya di http://menapaki.blogspot.com/2010/02/un-pun-dikorup.html mah amit2
Komentar buriris | 09 Mar 2010 08:54 am
Komentar Suko Ra | 06 Mar 2010 10:32 am
Komentar erma | 03 Mar 2010 09:21 am
Komentar Bambang Setyadi | 13 Feb 2010 05:03 pm
Komentar siswo | 04 Feb 2010 10:16 pm
Komentar neynie | 04 Jan 2010 01:59 am
Komentar kusfandiari abu nidhat | 28 Dec 2009 12:46 pm
Komentar saparuddin | 22 Dec 2009 02:28 pm
Komentar basirun | 27 Oct 2009 01:36 pm
Komentar basirun | 27 Oct 2009 01:32 pm
|
![]() ![]() ![]() ![]() |