|
|
 |
 |
 |
 |
| Menulis, Keterampilan yang Terabaikan |
| 09 Jul 2008 | Komentar : 8 |
Oleh: Sri Mulyawati Guru Bahasa Inggris SMAN 2 Krakatau Steel Cilegon
Dua dari empat puluh orang siswa mengangkat tangan ketika ditanya siapa di antara mereka yang suka menulis. Begitupun ketika di kelas lain diajukan pertanyaan yang sama, hanya dua sampai empat orang yang menyatakan suka menulis. Ketika siswa ditugaskan untuk menulis, sebagian dari mereka menunjukan keengganannya dengan keluhan, ''Yaa menulis?'' Sangat sedikit siswa yang tampaknya menyenangi kegiatan menulis.
Beberapa siswa mengatakan bahwa kegiatan menulis membosankan dan tidak menyenangkan, sementara yang lain mengatakan menulis itu sulit. Kata mereka, yang paling sulit dari menulis adalah menemukan ide tulisan. Kalaupun ide sudah ada bagaimana mulai menuliskannya, kalimat apa dulu yang harus ditulis,dan menyusun kalimatnya seperti apa, adalah di antara keluhan-keluhan yang banyak disampaikan siswa ketika mereka harus menulis.
Apakah benar menulis itu kegiatan yang tidak menarik dan sulit sebagaimana yang dipersepsikan oleh siswa. Hernowo (2005) mengatakan bahwa percaya atau tidak, kita semua bisa menjadi penulis. Di suatu tempat di dalam diri setiap manusia ada jiwa unik yang berbakat yang mendapatkan kepuasan mendalam karena menceritakan suatu kisah, menerangkan bagaimana melakukan sesuatu, atau sekedar berbagi rasa dan pikiran.
Dorongan untuk menulis itu sama besarnya dengan dorongan untuk berbicara, untuk mengkomunikasikan pikiran dan pengalaman kita kepada orang lain, untuk paling tidak, menunjukkan siapa diri kita ini. Dengan demikian, semua orang termasuk siswa kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk menulis. Namun, bagaimana guru dapat mendorong siswa untuk mempraktikkan, mengasah, dan memunculkan kemampuan menulisnya?
Sebenarnya dalam proses pembelajaran, mata pelajaran apa pun, ada kegiatan-kegiatan yang menuntut siswa untuk menulis. Menjawab pertanyaan pemahaman secara tertulis berkaitan dengan topik bahasan, membuat catatan sendiri, membuat rangkuman atau membuat laporan adalah kegiatan-kegiatan menulis yang biasa dilakukan di dalam proses pembelajaran. Terlebih dalam pelajaran bahasa, baik pelajaran bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, siswa belajar tentang teori-teori menulis dengan sedikit praktek menulis. Namun, ternyata kegiatan-kegiatan tersebut tidak serta merta menjadikan siswa terampil menulis.
Menulis pada dasarnya bukan hanya sekedar menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan, tetapi lebih pada proses kreatif dalam menuangkan gagasan ke dalam wacana agar dapat dibaca, dipahami dengan mudah, dan lebih dari itu menarik untuk dibaca. Supaya dapat dibaca dan dipahami dengan mudah, menulis tentu harus mengikuti kaidah bahasa dan aturan penulisan. Namun, bukan berarti dalam pembelajaran menulis guru memberondong siswa dengan teori-teori menulis.
Keterampilan menulis adalah keterampilan proses. Mengajarkan keterampilan menulis seyogyanya lebih ditekankan pada proses menghasilkan satu tulisan, lebih pada bagaimana siswa secara bertahap mampu membuat karya tulis, tulisan tentang apa pun yang mereka tahu dan mereka sukai. Berikut ini lima terobosan yang diajukan A Chaedar (2005) dalam pelajaran bahasa agar siswa mampu menulis, yaitu:
1. Giatkan menulis kolaboratif Kolaborasi adalah suatu teknik pengajaran menulis dengan melibatkan sejawat atau teman untuk saling mengoreksi. Sejawat yang diajak berkolaborasi itu disebut kolaborator. Dalam kelas besar, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil membentuk literracy circle, terdiri atas tiga atau empat orang. Masing-masing anggota membaca karangan atau tulisan teman dalam kelompoknya. Sewaktu membaca, kolaborator memberikan tanda pada kesalahan-kesalahan kecil dan setelah itu memberikan komentar atau respons terhadap tulisan teman-teman satu kelompoknya. Tulisan yang sudah dikomentari dikembalikan pada penulisnya untuk direvisi.
2. Tumbuhkan rasa senang waktu menulis Untuk membangun keterampilan menulis, biarkan potensi siswa meledak-ledak, berteriak, menjerit, berisak tangis, berbisik sendu, bermesra ria dengan nuraninya sendiri dalam genre yang disukainya, baik dalam bentuk tulisan informatif, argumentatif, eksploratif, imajinatif, persuasif, atau ekspresif.
3. Berikan feedback Berikan masukan dan komentar yang produktif, interaktif, dialogis, dan mencerdaskan pada tulisan siswa, bukan sekedar komentar basa basi.
4. Gunakan bidang studi sebagai media Beri kesempatan pada siswa untuk menulis dengan tema yang mereka kuasai.
5. Ajarkan menulis sedini mungkin Kita fasih berbahasa lisan karena kita membiasakannya sejak kecil. Andaikan sejak kecil kita sudah dibiasakan menulis, tentu kita akan terampil menulis.
Siswa umumnya menganggap menulis merupakan kegiatan yang sulit untuk dilakukan sebagaimana guru bahasa menganggap menulis merupakan keterampilan yang sulit untuk diajarkan. Siswa seringkali dilanda frustasi ketika menulis. Begitupun guru, dalam pembelajaran menulis guru terkadang menemui kesulitan harus apa dulu yang diajarkan. Namun, karena mengajar sebaiknya dimulai dari mengajarkan yang mudah ke yang sulit, maka sebelum belajar menulis tulisan yang menuntut argumentasi, misalnya, siswa akan lebih mudah belajar menulis tulisan naratif terlebih dahulu, menulis tentang diri sendiri, perasaan, pengalaman, saudara, teman, sekolah, dan sebagainya.
Umumnya orang menulis tentang pengalaman pribadi di dalam buku diari atau buku catatan harian. Tidak ada salahnya guru menugaskan siswa untuk memilikinya dan menganjurkan mereka menulis tentang apa saja yang mereka amati dan pengalaman apa saja yang mereka alami. Kalaupun ada siswa yang tidak berusaha memiliki dan menulis di buku catatan harian, tidak masalah. Sekali-kali guru membaca buku catatan harian siswa dan memberikan komentar pada tulisan mereka.
Guru pun dituntut untuk meningkatkan kemampuan menulis. Tulisan guru dapat dijadikan contoh atau model menulis bagi siswa. Dengan melakukan sendiri kegiatan menulis, guru akan memiliki empati terhadap siswa, merasakan kesulitan sebagaimana yang dialami siswa. Hal yang tidak kalah penting adalah guru dan siswa bersama-sama menghidupkan kebiasaan menulis. Budaya menulis akan tercipta apabila guru dan siswa sama-sama memiliki kebiasaan menulis.
Sumber: Republika, 9 Juli 2008
|
Saya setuju sekali, Bang Rofiq.
Komentar rofiq | 12 Sep 2008 10:27 pm
Selain berbagai macam dorongan, jangan lupa untuk menyediakan media publikasi untuk mereka. Mading ok, tapi coba juga buletin atau majalah sekolah (dicetak). Akan menjadi kebanggaan bagi siswa ketika karya mereka dicetak dan akan dia bawa dan tunjukkan kepada orang lain.
Untuk mbak Christina, saya mau usul nih. Menulis bukan keahlian langsung jadi. Butuh waktu dan latihan. Tak hanya isi buku yang perlu diperhatikan. Amati pula gaya, dan cara bertutur dalam setiap buku. Ada buku yang bertutur serius, ada yang seperti ngobrol padahal temanya berat, atau isinya banyak guyon saja. Coba kembangkan gaya tulisan anda sendiri. Cari beberapa teman untuk jadi editor dan komentator gratisan. Siap-siap dikritik. Siapkan mental kalau dibantai habis-habisan. Ini cuma usul kok mbak Christina. Penulis "Ice Lemon Tea for School"
Saya maniak baca skaligus pembimbing majalah sekolah. Tapi aneh bin ajaib, menulis masih saja pekerjeaan yang sulit buat saya. Bagaimana ni?
Komentar sutrisno | 31 Aug 2008 02:25 pm
Komentar vandha | 15 Aug 2008 08:00 am
Era digital, era informasi, era menulis. Guru seyogiyanya punya blog pribadi masing2.
Komentar saroni | 19 Jul 2008 02:45 pm
Guru dan menulis itu sebenarnya satu paket, satu kesatuan yang utuh. Adalah aneh jika seorang guru tidak ma(mp)u menulis! Sebab guru itu panutan siswa. Dengan kemampuan menulis yang tereksplorasi, maka hal tersbut dapatmenjadi motivasi bagi anak untuk ikut menulis. Iya, kan
Saya setuju pentingnya kemampuan menulis untuk siswa. Saya ingin tambahkan saran: * Berikan tugas menulis dengan tema-tema sesuai umur dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. * Janganlah memberikan batasan minimal karangan sekian ratus kata, sekian lembar kertas, dsb. Tak semua anak punya kecerdasan linguistik tinggi. Jangan memaksa, namun beri motivasi. * Agar lebih kreatif, motivasi siswa untuk hobi membaca. Semakin banyak buku yang sudah mereka baca, semakin banyak kosakata mereka, semakin luas wawasan mereka. Makin banyak kan kreatifitas mereka. * Guru wajib jadi contoh guru yang senang menulis dan hobi membaca. Aneh kan, menuntut siswa senang menulis, tapi dirinya sendiri ogah membaca. Thanks.
|
|
|
| Agenda |
|
|
 |
 |
| |
| Download |
|
|
 |
| Galeri Foto |
|
|
|