Tentang Klub Guru | Program Kerja | Sekretariat
 
       
   
     


Konsultasi
Berita
Artikel

 

Membangkitkan Roh Pendidikan
17 Jul 2008 | Komentar : 5

Oleh: Prof Dr H Ki Supriyoko,
Pengasuh Pesantren Ar-Raudhah Yogyakarta dan Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) Tokyo, Jepang

Tidak ada bangsa yang bangkit dari keterpurukan kalau pendidikannya mlempem. Filosofi ini perlu ditanamkan bagi bangsa Indonesia umumnya dan pimpinan partai politik pada khususnya, yang notabene sudah baru saja memulai kampanye pemilu. Hal ini penting karena jalannya roda pendidikan kita masih terseok-seok dan ada beberapa faset yang hilang.

Ada ilustrasi empiris yang pernah saya alami. Bersama seorang sahabat asli Jepang yang berprofesi sebagai dosen di Showa University saya menghabiskan waktu sigh seeing Tokyo. Ketika turun dari kereta api di Stasiun Shinjuku, sahabat saya itu membungkukkan badan 90 derajat sebagai tanda penghormatan kepada seseorang yang berpapasan dengannya. Ketika saya tanyakan siapa orang itu, dia menjawab orang tersebut adalah guru dari anaknya yang masih belajar di SD.

Pendidikan di Jepang mengajarkan siswa hormat kepada siapa saja, terutama orang tua dan guru (sensei). Guru di Jepang sangat terhormat, bukan saja siswanya tetapi keluarga siswanya pun memberi hormat. Sahabat saya tadi meski ia seorang intelektual, master, doktor, dan dosen ahli di universitas terkenal tetap saja memberikan penghormatan yang tulus kepada seorang yang hanya berprofesi sebagai guru SD. Hal yang sederhana tetapi penuh makna seperti itulah yang hilang dari pendidikan nasional kita sekarang.

Roh pendidikan

Penghormatan kepada guru merupakan cermin kehidupan masyarakat Jepang. Meskipun tidak mampu berkelit dari kehidupan industrialis yang sarat dengan kompetisi, nilai-nilai bijak masyarakat Jepang seperti menghormati orang lain, toleransi, dan saling sapa tetap dipertahankan, bahkan dikembangkan di sekolah. Pengembangan nilai-nilai bijak tersebut diyakini sangat efektif melalui pendidikan dan hasilnya tecermin dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Jepang sangat menghormati guru karena pada umumnya sang guru menganggap anak dalam pengertian keluarga ketika mendidik anak didiknya. Tanggung jawab guru dalam memajukan siswa, baik intelek-tual maupun kepribadian, sungguh-sungguh tidak diragukan. Di sinilah letak kunci penghormatan itu.

Karena siswa sudah dianggap sebagai anak dalam pengertian keluarga maka dalam mendidik siswa, seorang guru melakukannya dengan rasa kasih sayang (love and affection), penuh keikhlasan (sincerely), kejujuran (honesty), keagamaan (spiritual), dan dalam suasana kekeluargaan (family atmosphere). Dalam hal ini seorang guru menempatkan diri bukan sebagai seorang pegawai yang harus mengajar siswa dengan sistem penjadwalan waktu yang ketat, tetapi guru tersebut menempatkan dirinya sebagai orang tua yang sedang membimbing dan mengasuh anaknya.

Rasa kasih sayang, keikhlasan, kejujuran, keagamaan, serta suasana kekeluargaan itulah yang sering saya namakan dengan roh pendidikan. Roh pendidikan merupakan napas kehidupan di setiap lini, lorong, dan sudut pendidikan.

Dalam konsep Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yang dilaksanakan dengan penuh rasa kasih sayang, keikhlasan, kejujuran, keagamaan, dalam suasana kekeluargaan itu disebut dengan Sistem Among. Selanjutnya para guru atau pendidik yang bisa memerankan fungsinya secara baik disebut dengan pamong.

Dalam konsep Ki Hadjar Dewantara, guru tidak dibatasi waktu dan tempat dalam mendidik siswa sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Pagi hari, siang hari, sore hari, petang hari, dan bahkan malam hari pun seorang guru harus ikhlas memberikan bimbingan kepada siswa. Demikian pula tempat pendidikannya pun tidak dibatasi di ruang-ruang kelas, tetapi di mana saja seorang guru harus sanggup berperan.

Dibangkitkan kembali

Dalam era globalisasi yang penuh tekanan dan kompetisi saat ini maka roh pendidikan pantas diungkap kembali. Kenapa? Dalam realitasnya roh pendidikan sudah hilang dari sekolah. Banyak sekolah yang kehilangan roh pendidikan sehingga hubungan antara guru dan siswa, antarsiswa, dan antarguru menjadi hubungan yang formalistis dan mekanistis belaka.

Andaikan ada ukuran keikhlasan, sincerelymeter misalnya, sekarang sulit untuk mendapatkan guru yang mengajar penuh dengan keikhlasan. Kalau ada 100 guru, barangkali mencari lima orang saja yang ikhlas mengajarnya sangat sulit ditemukan. Belum lagi guru yang mengajar dengan kasih sayang, kejujuran, agamis, dan dalam suasana kekeluargaan.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti UU Guru dan Dosen, makna keprofesionalan yang digariskan dalam undang-undang ini kurang menyentuh aspek keikhlasan, kasih sayang, dan sebagainya itu. Kalau kita pahami UU Guru dan Dosen, kriteria keprofesionalan seorang guru hanya berkisar pada masalah kualifikasi pendidikan minimal, kesehatan jasmani dan rohani, serta kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kriteria kasih sayang, kejujuran, keikhlasan, keagamaan, dan suasana kekeluargaan sama sekali tidak tersentuh oleh UU Guru dan Dosen. Jadi, mungkin saja terjadi ada guru yang tidak jujur, tidak ikhlas, dan tidak dengan kasih sayang dalam mendidik siswa bisa dinobatkan sebagai guru yang profesional. Kalau ini terjadi betapa ironisnya.

Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia memang sudah meninggalkan kita semua. Namun, menjaga roh pendidikan kiranya tetap menjadi tanggung jawab kita semua, bahkan roh pendidikan itu harus kita bangkitkan kembali.


Sumber:
Republika, 15 Juli 2008
Komentar Nieke P. Soetanto | 19 Aug 2008 10:53 am
Karena hampir tidak terjaganya roh pendidikan pada setiap pendidik tanpa disangkal terbukti bagaimana kondisi dunia pendidikan bukan berbicara y.a.d tetapi saat ini saja menurut saya sudah memprihatinkan dan mengerikan, karena mayoritas para pendidik kurang menghayati kode etik profesinya terbukti dengan melakukan budaya "tidak jujur" yang secara jelas dapat menjadi panutan anak bangsa untuk "tidak jujur" dalam segala hal menggunakan jalan pintas dengan berbagai cara.misalnya apa yang terjadi dengan dana BOS? sertifikasi guru?; UNAS?penerimaan siswa baru? ;pembelian buku pelajaran elektronik ?;Apakah "pendidikan tidak jujur" ini akan meluluh lantakkan "Roh pendidikan"
yang seharusnya digunakan sebagai fondasi mendidik anak bangsa kepada mereka inilah masa depan negara kita titipkan. Semoga masih ada rekan-rekan pendidik yang mampu memperjuangkan eksistensi pendidikan yang sebenarnya serta memiliki roh pendidikan yang hakiki.
smile
Komentar sumie | 14 Aug 2008 10:12 pm
Subhanallah, saya jadi teringat pengalaman di tanah air ini bersama sang dosen pula sebagai orang tua siswa. Namun yang terjadi sangat paradoks dengan cerita di atas.Masya Allah, hanya Allah-lah Yang Maha Tahu, Allah Maha Perkasa. Semoga menjdai pelajaran untuk semua.
Komentar Suprapti Kustariyah | 13 Aug 2008 08:12 am
Saya setuju dengan pendapat prof. Dan saya selalu berupaya untuk menerapkannya dalam kegiatan / profesi saya sebagai pendidik. Semoga penyegaran ini bermanfaat untuk kita semua.
Komentar lis | 19 Jul 2008 06:42 pm
smile
Terima kasih telah menyuarakan kerisauanku. Mudah-mudahan dapat menjadi nasihat bagi semua.
Komentar saroni | 18 Jul 2008 04:40 pm
laughing
ruh pendidikan boleh saja dibangkitkan, tetapi jika ruh belajar anak didik tetap tidur tanpa semangat ya sama saja. oleh karena itulah, maka antara ruh pendidikan dan ruh belajar harus sama-sama dibangkitkan.
Name:
E-mail: (optional)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

| Forget Me

 
Agenda
 
Download
Galeri Foto
© 2007. Klub Guru. Hak cipta dilindungi Undang-undang
info@klubguru.com